kenapa banyak orang yang menyuruh aku buat kuliah?
buat sekolah lebih tinggi..
sampai mulut kalian berbusa pun aku tak ada niatan untuk sekolah lagi karena aku merasa sudah cukup aku untuk belajar di bangku sekolah yang formal.
aku sudah cukup puas untuk belajar dari alam dan kehidupan di dunia ini.
banyak ilmu yang bisas kita dapat dari alam bukan dari formal.
saya tahu kalo belajar dari alam tidak mendapat sertifikat seperti waktu belajar di sekolah-sekolah formal.
bukan sertifikat atau ijasah yang aku cari, akan tetaapi ilmu yang berguna bagi diriku sendiri dan orang yang ada disekelilingku.
sekarang apa artinya kita sekolah dan setelah lulus dan wisuda kita mendapat gelar dari kampus (D3, S1, S2, S3) kalau ilmu yang pernah kita dapatkan dari sekolah tidak dapat kita gunakan dengan sebaik-baiknya dan menolong orang yang ada di sekeliling kita.
bahkan kita lupa akan diri kita sendiri, mentang-mentang kita sekolah tinggi lantas kita boleh semena-mena terhadap orang lain yang tidak mempunyai pendidikan atau pendidikan dibawah tingkatan kita.
banyak aku temui kalau anak yang masih/pernah kuliah di perguruan tinggi kebanyakan malah menjadikan mereka menjadi sombong.
oke, tidak apa-apa kalau ingin menjadi sombong tapi ingat suatu saat kesombonganmu akan menjadi senjata makan tuan buat diri kalian.
mengapa aku tidak ingin kuliah?
alasannya sederhana sesederhana kita hidup.
bagaimana kita hidup?
dari awal kita membuka mata kita sudah bernafas, menghembuskan nafas, mandi, makan, minum, bersosialisasi, menjalankan ibadah sesuai keyakinan dan kepercayaan kita masing-masing, belajar, bekerja, memejamkan mata hingga kita membuka mata kembali.
aku tidak ingin kuliah karena:
1. takut sombong
seperti apa yang telah terjabarkan di atas tadi, bagaimana perilaku orang yang bersekoalh tinggi.
2. takut selalu melihat ke atas bukannya kita melihat ke bawah
takut melihat yang serba muluk-muluk dan tidak bisa menerima keadaan yang sebenarnya dengan panutan orang kaya harta sedangkan kita tidak bisa hidup serba pas-pasan.
bukannya bersikap perihatin terhadap orangyang tidak seberuntung kita bahkan kita menghina mereka, itu semua karena dalam pikiran mereka hanyalah mendapatkan uang, entah itu uang halal atau uang haram karena mereka harus mendapatkan ganti rugi atas setiap rupiah yang telah mereka keluarkan untuk biaya kuliah
3. ingin menerima apa adanya yang telah Allah berikan
background pendidikan saya hanyalah STM jadi saya tidak terlalu banyak ambil pusing mau kerja dibagian manapun dan dimanapun asalkan uang yang saya dapatkan adalah halal untuk aku makan dan utnuk berbagi.
bukan jadi bos atau pemimpin yang saya harapkan dalam bekerja.
kalaupun saya diberi amanah untuk menjadi pemimpin bukan menjadikan diriku sebagai pemimpin yang menyuruh anak buah dengan se-enak sendiri akan tetapi lebih menjadikan anak buah sebagai teman dan tidak ada namanya bos dan "kroco-kroco"
4. aku ingin melihat penilaian orang terhadap diriku yang tak pernah kuliah
tidak semua orang menilai seseorang dari hati tapi sering dipandang dari background pendidikan terakhir.
dihina, diolok-olok, dicerca, dicela bahkan tidak dihargai layaknya sampah.
apakah salah kalau orang dengan basic pendidikan dibawah orang kuliahan tidak boleh bersosialisasi, bekerja dalam satu tim, berpacaran bahkan menikahi anak kuliahan.
bahkan ngomong pun seakan-akan tidak pernah didengarkan, mungkin telinga mereka sudah tertutup bahkan tuli jika bukan anak kuliahan yang ngomong kepada mereka.
5. seberapa berperankah aku dengan ilmu yang telah aku pelajari
seberapa berperankah aku dsalam sumbangsih kepada masyarakat sekitarku dengan ilmu yang aku dapat.
aku hanya bisa menggambar maka aku akan berusaha menggambarkan sesuatu yang ada gunanya untuk mereka.
kadang aku bingung, kenapa seolah-olah apa yang aku omongin kepada mereka tidak pernah mendapat tanggapan yang positif dari mereka bahkan mereka seolah-olah acuh dan tiddak mau tahu apa yang aku ucapkan.
bahkan kekasihku yang sekarang masih kuliah juga seakan-akan tidak mau mendengarkan apa ucapanku terhadapnya.
1-2 kali aku mencoba untuk menasihati tidak pernah didengarkan dan tidak digubris sama sekali malah dia ikut ngomong dan membantah semua omanganku kepadanya.
harusnya kau sadar siapa aku dan siapa dia, tidak layak aku ngomong bahkan sampai menasihati dia dengan segala ocehan dan celotehku meski itu semua penting untuknya.
ya sudah tidak apa-apa kalau tidak mau menuruti kata-kataku, biarkan aku diam dan jangan salahkan aku jika aku menjadi seorang yang cuek.
aku kecewa?
iya aku sangat kecewa dan hatiku rasanya sakit dan panas ketika seorang kekasih dinasihati beberapa kali tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku.
seharusnya dulu aku tidak menjadikan dia menjadi kekasihku karena dengan sifat antyiku terhadap anak kuliahan.
aku kira dia berbeda dengan anak kuliahan lainnya tapi ternyata dia sama saja.
baru dia yang anak kuliahan menjadi kekasihku.
nasi telah menjadi bubur tak akan mungkin pernah bisa kembali menjadi semula.
hanya pasrah terhadap kisah ini, jika harus terhenti dipersimpangan jalan mau bilang apa.
dan jikalau hrus terus lanjut hingga pelaminan disyukuri saja tapi tetap berprinsip jangan pernah merepotkan dia yang berpendidikan lebih tinggi dari aku.